Navigation

Senin, 07 Mei 2012

AQSAMUL QUR’AN


BAB I
PENDAHULUAN

            Nabi Muhammad SAW. adalah nabi akhir zaman, yang membawa penerangan bagi seluruh umat manusia. Salah satu mu’zizat yang diberikan Allah SWT kepada nabi Muhammad adalah al-Quran. Al-Quran adalah kitb yang paling sempurna, dimana didalamnya mengatur segala kehidupan manusia.
Di dalam al-Quran, Allah mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan sesama manusia. Dari ketiga aturan itu maka ada yang disebut sumpah atau aqsamul. Aqsamul berasal dari kata qasam yang merupakan bentuk jamak dari kata qasam. Kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu : halaf dan yamin yang berarti sumpah.
Secara terminologi qasam didefinisikan sebagai : “Mengikatkan jiwa (hati) untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk melakukannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun keyakinan saja.”
Ilmu Aqsamil Qur’an ialah ilmu yang membahas arti dan makna sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.





BAB II
AQSAMUL QUR’AN

A.    Definisi
Secara etimologi aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam. Kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu : halaf dan yamin yang berarti sumpah.
Secara terminologi qasam didefinisikan sebagai : “Mengikatkan jiwa (hati) untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk melakukannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun keyakinan saja.”
Ilmu Aqsamil Qur’an ialah ilmu yang membahas arti dan makna sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
B.     Definisi Qasam dan Sighatnya
Aqsam jamak dari qasam, berarti sumpah. Sighat asli qasam itu berasal dari fi’il aqsama اقسم dita’adikan dengan ba الباء kepada muqsim المقسم به kemudian didatangkan kepada اهسم عليه . Ini dinamakan dengan jawab qasam. Seperti firman Allah yang berbunyi.
qJ|¡ø%r&ur «!$$Î/ yôgy_ öNÎgÏZ»yJ÷ƒr&   Ÿw ß]yèö7tƒ ª!$# `tB ßNqßJtƒ 4
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati" (QS An-Nahl : 38).
Sighat qasam itu ada tiga macam:
1.      Fi’il yang dita’adikan dengan huruf Ba
2.      Maqsam bih
3.      Maqsam alaih
Ketika qasam banyak terdapat pada kata-kata itu diringkas maka terjadilah fi’il qasam dengan الباء. Kemudian الباء diganti dengan الوالو pada isim zahir. Seperti firman Allah yang berbunyi.
È@ø©9$#ur #sŒÎ) 4Óy´øótƒ ÇÊÈ
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (QS Al-Lail : 1).
Dengan التاء pada lafaz jalalah. Seperti firman Allah yang berbunyi.
«!$$s?ur ¨byÅ2V{ /ä3yJ»uZô¹r&
Demi Allah, Sesungguhnya Aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala itu. (QS Al-Anbiyaa’ : 57).
Ini hanya sedikit, yang banyak adalah (الواو).
Qasam dan yamin itu hanya satu artinya jika itu sumpah. Yaitu mengikat diri menolak apa yang dituduhkan orang kepadanya. Berarti mengagumkan, baik membenarkan atau dengan i’tiqad. Sumpah ini dinamakan yamin, karena orang Arab mengambil tangan kawannya di waktu bersumpah.
C.    Macam-macam Qasam
Qasam atau sumpah ada yang zhahir dan ada pula yang dhammir. Pertama, qasam zhahir yaitu yang secara eksplisit disebut fi’il qasam dan disebutkan pula muqsambihnya. Ada pula yang dibuang fi’il qasam karena dicukupi dengan menjajarkan huruf الواو atau التاء   atau الباء. Dan kadang-kadang dimasukkan pula لاالنافيه  terhadap فعل القسم  pada beberapa tempat. Seperti firman Allah dalam Al Qur’an yang berbunyi.
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÊÈ Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ
Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS Al Qiyaamah : 1-2).
(1)            Tentang huruf لا tersebut ada yang berpendapat “nafiyyah” bagi sesuatu yang makhdzuf, sehingga arti sebenarnya : “Tidak benar apa yang kamu katakan, yaitu tidak ada hisab dan tidak ada ‘iqab (dijatuhi hukuman)”. Yang kemudian pembicaraan dimulai lagi dengan, “Aku bersumpah dengan hari kiamat dan dengan nafsu lawamah, bahwa sesungguhnya kamu akan dibangkit”.
(2)            Ada pula mengatakan, “Tidak , tidak perlu saya bersumpah kepadamu dengan hari itu dan nafsu itu. Tapi aku tanyakan kepadamu bukan bersumpah. Apakah engkau mengira aku tidak mengumpulkan tulang-tulang itu telah tercerai-berai karena telah mati?”
(3)            Ada pula yang mengatakan, bahwa لا tersebut adalah zaidah, sedang jawab qasamnya dibuang yang ditunjukkan oleh kiamat sesudahnya yaitu lafal لتبعثن.
Kedua, qasam mudhmar atau implisit. Yaitu yang tidak disebut fi’il qasam dan muqsam bihnya. Di sini hanya ditunjukkan oleh ل taukid pada jawab qasam seperti firman Allah yang berbunyi.[1]
žcâqn=ö7çFs9 þÎû öNà6Ï9ºuqøBr&
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. (QS Ali Imran : 186).
D.    Al Muqasam Bih dalam Al Qur’an
Allah menyatakan sumpah-Nya dalam Al Qur’an, dengan beberapa bentuk sebagai berikut :
1.              Bersumpah dengan nama atau kedudukan diri-Nya sendiri.
Di dalam Al Qur’an terdapat tujuh tempat di mana Allah menyatakan sumpah-Nya dengan nama atau kedudukan diri-Nya sendiri, antara lain tersebut dalam firman-firman-Nya sebagai berikut.
a.       QS Ath-Thaghabun : 7
zNtãy tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. br& `©9 (#qèVyèö7ム4 ö@è% 4n?t/ În1uur £`èVyèö6çGs9 §NèO ¨bàs¬7t^çGs9 $yJÎ/ ÷Läêù=ÏHxå 4 y7Ï9ºsŒur n?tã «!$# ׎Å¡o ÇÐÈ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan." yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
b.      QS Saba’ : 3
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿw $oYÏ?ù's? èptã$¡¡9$# ( ö@è% 4n?t/ În1uur öNà6¨ZtÏ?ù'tGs9 ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# ( Ÿw Ü>â÷ètƒ çm÷Ztã ãA$s)÷WÏB ;o§sŒ Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# Ÿwur Îû ÇÚöF{$# Iwur ãtóô¹r& `ÏB šÏ9ºsŒ Iwur çŽt9ò2r& žwÎ) Îû 5=»tGÅ2 &ûüÎ7B ÇÌÈ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)",
c.       QS Yunus : 53
štRqä«Î6.^tFó¡tƒur <,ymr& uqèd ( ö@è% Î) þÎn1uur ¼çm¯RÎ) A,yss9 ( !$tBur OçFRr& šúïÌÉf÷èßJÎ/ ÇÎÌÈ
Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)".
d.      QS Maryam : 68
šÎn/uuqsù öNßg¯RuŽà³ósoYs9 tûüÏÜ»u¤±9$#ur ¢OèO óOßg¯RuŽÅØósãZs9 tAöqym tL©èygy_ $wŠÏWÅ_ ÇÏÑÈ
Demi Tuhanmu, Sesungguhnya akan kami bangkitkan mereka bersama syaitan, Kemudian akan kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.
e.       QS Al Hijr : 92-93
šÎn/uuqsù óOßg¨Yn=t«ó¡oYs9 tûüÏèuHødr& ÇÒËÈ $¬Hxå (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÌÈ
Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan menanyai mereka semua, Tentang apa yang Telah mereka kerjakan dahulu.
f.       QS Al Ma’arij : 40
Ixsù ãNÅ¡ø%é& Éb>tÎ/ É-̍»t±pRùQ$# É>̍»tópRùQ$#ur $¯RÎ) tbrâÏ»s)s9 ÇÍÉÈ
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, Sesungguhnya kami benar-benar Maha Kuasa.
g.      QS An Nisa’ : 65
Ÿxsù y7În/uur Ÿw šcqãYÏB÷sム4Ó®Lym x8qßJÅj3ysム$yJŠÏù tyfx© óOßgoY÷t/ §NèO Ÿw (#rßÅgs þÎû öNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB |MøŠŸÒs% (#qßJÏk=|¡çur $VJŠÎ=ó¡n@ ÇÏÎÈ
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
2.              Bersumpah dengan nama-nama bagi makhluk-makhluk-Nya.
Di dalam Al Qur’an banyak sekali berita-berita yang diberi taukid dengan bentuk sumpah Allah kepada nama-nama dari makhluk-makhluk-Nya, antara lain:


a.       QS Qaaf : 1
úX 4 Éb#uäöà)ø9$#ur ÏÉfyJø9$# ÇÊÈ
Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia.
b.      QS Adh-Dhuha : 1-2
4ÓyÕÒ9$#ur ÇÊÈ È@ø©9$#ur #sŒÎ) 4ÓyÖy ÇËÈ
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, Dan demi malam apabila Telah sunyi (gelap),
c.       QS At-Tin : 1-2
ÈûüÏnG9$#ur ÈbqçG÷ƒ¨9$#ur ÇÊÈ ÍqèÛur tûüÏZÅ ÇËÈ
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, Dan demi bukit Sinai,
d.      QS Al-Fajr : 1-4
̍ôfxÿø9$#ur ÇÊÈ @A$us9ur 9Žô³tã ÇËÈ Æìøÿ¤±9$#ur ̍ø?uqø9$#ur ÇÌÈ È@ø©9$#ur #sŒÎ) ÎŽô£o ÇÍÈ
Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu.
e.       QS Al-Lail : 1-3
È@ø©9$#ur #sŒÎ) 4Óy´øótƒ ÇÊÈ Í$pk¨]9$#ur #sŒÎ) 4©?pgrB ÇËÈ $tBur t,n=y{ tx.©%!$# #Ós\RW{$#ur ÇÌÈ
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), Dan siang apabila terang benderang, Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
Bersumpah dengan nama-nama makhluk-Nya adalah hak Allah, dan menunjukkan segi kebesaran dan kekuasaan-Nya, karena Dia-lah sendiri yang menciptakan dan mengurusnya serta menguasainya.
Ibnu ‘Abbas menjawab pertanyaan seorang sahabat, seraya berkata :
وَلِلّٰٰهِ اَنْ يُقْسِمَ بِمَا شَاءَ
“Adalah hak Allah untuk bersumpah (dengan nama-nama) sesuai dengan kehendak-Nya”.
Adapun hikmah dari sumpah Allah dengan nama-nama dari makhluk-Nya, para ahli tafsir menerangkannya, adalah sebagai petunjuk terhadap keutamaan dan manfaatnya, serta agar manusia mengambil pelajaran dari padanya.[2]
3.              Bersumpah dengan Perbuatan-Nya sendiri.
Hal tersebut ada dalam QS Asy-Syams ayat 1 sampai 3 yang berbunyi.
ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ ÌyJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ Í$pk¨]9$#ur #sŒÎ) $yg9¯=y_ ÇÌÈ
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,Dan bulan apabila mengiringinya, Dan siang apabila menampakkannya,
4.              Bersumpah dengan Pengaruh Perbuatan-Nya sendiri.
Yaitu terdapat pada  QS Ath-Thuur : ayat 1 sampai ayat 2 yang berbunyi.
ÍqÜ9$#ur ÇÊÈ 5=»tFÏ.ur 9qäÜó¡¨B ÇËÈ
Demi bukit, Dan Kitab yang ditulis,
Sebagai catatan, hamba Allah (manusia) hanya boleh bersumpah dengan nama Allah saja.[3]
E.     Hal Ihwal Muqsam ‘Alaih
Karena qasam bermaksud mentaukidkan dan mentahqiqkan muqsam ‘alaih, maka muqsam ‘alaih hendaknya hal-hal yang patut diadakan qasam seperti masalah yang jauh dan tersembunyi, jika bermaksud menetapkan adanya.
Pada umumnya jawab qasam disebut dengan tegas. Akan tetapi ada juga yang dibuangnya. Yang sering dibuang adalah, jawab  لَََو. Beberapa contoh jawab qasam :

Pertama, Firman Allah dalam surat At Takaatsur : 5.
žxx. öqs9 tbqßJn=÷ès? zNù=Ïæ ÈûüÉ)uø9$# ÇÎÈ
 Di sini لَََو  dibuang. Asalnya : Seandainyaa kamu mengetahui apa yang akan kamu hadapi dengan ilmil yaqin, pasti akan kamu lakukan berbagai amal kebaikan.
Kedua, Firman Allah dalam surat Al Fajr : 1-10.
̍ôfxÿø9$#ur ÇÊÈ @A$us9ur 9Žô³tã ÇËÈ Æìøÿ¤±9$#ur ̍ø?uqø9$#ur ÇÌÈ È@ø©9$#ur #sŒÎ) ÎŽô£o ÇÍÈ ö@yd Îû y7Ï9ºsŒ ×L|Žs% Ï%Îk! @øgÉo ÇÎÈ öNs9r& ts? y#øx. Ÿ@yèsù y7/u >Š$yèÎ/ ÇÏÈ tPuÎ) ÏN#sŒ ÏŠ$yJÏèø9$# ÇÐÈ ÓÉL©9$# öNs9 ÷,n=øƒä $ygè=÷WÏB Îû Ï»n=Î6ø9$# ÇÑÈ yŠqßJrOur tûïÏ%©!$# (#qç/%y` t÷¢Á9$# ÏŠ#uqø9$$Î/ ÇÒÈ tböqtãöÏùur ÏŒ ÏŠ$s?÷rF{$# ÇÊÉÈ
Dalam ayat tersebut qasam menghendaki dengan zaman yang mengandung amalan, sehingga layak untuk dijadiakan muqsam bih yang tidak memerlukan jawab qasam. Pendapat lain mengatakan, bahwa qasamnya makhdzuf lafadh لََتُعَذَّبُوْنَ . Ada pula yang berpendapat jawabnya pada lafadh ٳِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِِرْصَاد  (Al Fajr : 14). Tapi yang sahih, dalam ayat tersebut tidak memerlukan jawab qasam.
Ketiga, Firman Allah dalam surat As Syams : 1-10.
ħ÷K¤±9$#ur $yg8ptéÏur ÇÊÈ ÌyJs)ø9$#ur #sŒÎ) $yg9n=s? ÇËÈ Í$pk¨]9$#ur #sŒÎ) $yg9¯=y_ ÇÌÈ È@ø©9$#ur #sŒÎ) $yg8t±øótƒ ÇÍÈ Ïä!$uK¡¡9$#ur $tBur $yg9t^t/ ÇÎÈ ÇÚöF{$#ur $tBur $yg8yssÛ ÇÏÈ <§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢yŠ ۞
Fi’il madhi yang mutsbat lagi mutasharrif yang tidak didahului ma’mulnya, apabila menjadi jawab qasam lazim disertai “lam” dan قَدْ. dan tidak dapat dicukupkan dengan salah satunya, kecuali di waktu panjang pembicaraan seperti ayat di atas. Di sanalam” pada   قَدْاَفْلَحkarena panjang pembicaraan.[4]
F.     Qasam dan Syarat
Bila dikumpulkan qasam dan syarat lalu dimasukkan kepada yang lain maka dijawab itu ditujukan kepada yang terdahulu (qasam atau syarat). Jika qasam yang dahulu dari syarat maka jawab ini adalah untuk qasam. Seperti yang terdapat pada firman Allah yang berbunyi.
 ûÈõs9 óO©9 ÏmtG^s? y7¨ZuHädöV{ ( ÎTöàf÷d$#ur $|Î=tB
Jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan aku rajam (QS Maryam : 46).
Takdirnya di sisi adalah, -Demi Allah jika engkau tidak berhenti. Huruf       (لم تنَّه) dimasukkan kepada syarat bukan dengan (واهجرنى) jawab qasam, seperti pada contoh dalam firman Allah yang berbunyi.
«!$$s?ur ¨byÅ2V{ /ä3yJ»uZô¹r&
Demi Allah, Sesungguhnya Aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu  (Al Anbiyaa’: 57).
Tetapi huruf لاَكُبَرَنَّ yang masuk kepada adat syarat untuk memperbolehkan. Jawab yang terletak sesudahnya itu dibina pada qasam yang terletak sebelumnya, bukan kepada syarat. Ini dinamakan lam mu’azanah. Juga dinamakan Al Mauthiah. Karena jawab itu ditujukan pada qasam. Atau mahdiah seperti firman Allah yang berbunyi.
÷ûÈõs9 (#qã_̍÷zé& Ÿw tbqã_ãøƒs öNßgyètB ûÈõs9ur (#qè=Ï?qè% Ÿw öNåktXrçŽÝÇZtƒ ûÈõs9ur öNèdrçŽ|ǯR  Æ9uqãs9 t»t/÷ŠF{$# ¢OèO Ÿw šcrçŽ|ÇYムÇÊËÈ
Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan Sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; Sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; Kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan. (Al Hasyr : 12).
Kebanyakan lam muthi-ah  (اللام الموطئة) itu tidak masuknya kepada     ان  لشرطية masuk kepada yang lainnya. Dan tidak boleh dikatakan jumlah syarthiyah الحملةالسترصية itu jawab qasam muqadar. Syarat itu tidak boleh adanya jawab, karena jawab itu tidak ada selain dari khabar. Syarat di sini insyak. Contoh yang pertama ialah firman Allah yang berbunyi.
لاَرْجَمَنَكَ
Sesungguhnya akan Kami rajam engkau.
Jawaban qasam muqadam lebih memadai dari jawab syarat. Masuknya lam muth i-aan (اللام الموطئه) kepada syarat, bukan merupakan jawab. Kadang-kadang dibuang. Di samping adanya qasam muqadam sebelum syarat. Seperti firman Allah yang berbunyi.
 bÎ)ur óO©9 (#qßgtG^tƒ $£Jtã šcqä9qà)tƒ £`¡¡yJus9 šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. óOßg÷YÏB ëU#xtã íOŠÏ9r& ÇÐÌÈ
Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maidah : 730).
Yang menunjukkan jawab bagi qasam, bukan untuk syarat masuknya اللام kepadanya. Lam itu tidak dijazamkan. Berdasarkan firman Allah yang berbunyi.
ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ߧRM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù'tƒ È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# Ÿw tbqè?ù'tƒ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/
Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Al Qur’an ini (Al Isyraa’ : 88).
Adapun firman Allah yang berbunyi.
ûÈõs9ur öNšFB ÷rr& öNçFù=ÏFè% n<Z} «!$# tbrçŽ|³øtéB ÇÊÎÑÈ
Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan. (Ali Imraan : 158).
Lam (اللام) pada (ولئر) itu adalah muthi’ah bagi qasam. Dan lam pada (لاءلى الله) adalah lam qasam. Artinya itu jatuh pada jawab. Tidak dimasukkan (النون النوكيد) kepada fi’il. Untuk memisahkan lam dengan jar majrur. Asalnya ayat ini berbentuk.
ûÈõs9ur öNšFB ÷rr& öNçFù=ÏFè% n<Z} «!$# tbrçŽ|³øtéB ÇÊÎÑÈ
Jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan. (Ali Imraan : 158).[5]
G.    Sebagai Fi’il Diperlakukan pada Jalan Qasam
Apabila qasam itu tidak mentakkidkan muqsam alaih maka sebagian fi’il itu berjalan pada tempatnya. Jadi susunan kata-katanya itu pada artinya. Seperti firman Allah yang berbunyi.
øŒÎ)ur xs{r& ª!$# t,»sVŠÏB tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# ¼çm¨Zä^ÍhŠu;çFs9 Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur ¼çmtRqßJçGõ3s? çnrät7uZsù uä!#uur öNÏdÍqßgàß (#÷ruŽtIô©$#ur ¾ÏmÎ/ $YYoÿsS WxŠÎ=s% ( }§ø©Î7sù $tB šcrçŽtIô±o ÇÊÑÐÈ
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia (QS Ali Imraan : 187).
Huruf اللام  pada kata-kata لتبننه للناس adalah lam qasam. Dan jumlah yang terletak sesudahnya itu adalah jawab qasam. Mengambil janji berarti bersumpah. Ahli-ahli tafsir membawa ini kepada firman Allah yang berbunyi.
øŒÎ)ur $tRõs{r& t,»sVÏB ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) Ÿw tbrßç7÷ès? žwÎ) ©!$#
Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, (QS Al Baqarah : 83).
øŒÎ)ur $tRõs{r& öNä3s)»sWÏB Ÿw tbqä3Ïÿó¡n@ öNä.uä!$tBÏŠ
Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), (QS Al Baqarah : 84).
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 Îû ÇÚöF{$# $yJŸ2 y#n=÷tGó$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s%
Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, (QS An Nuur : 55).[6]
H.    Faedah Qasam dalam Al Qur’an
Keistimewaan bahasa Arab ialah halus ta’birnya, berbeda metode dengan bermacam-macam tujuan. Bagi mukhatab (orang yang mengucapkan perkataan) itu juga berbeda halnya. Ini yang dinamakan dalam ilmu ma’ani dengan mencontohkan berita itu ada tiga, yaitu Ibtida-i, thalabiy dan inkariy.
1.      Ibtida’i
Kadang-kadang perasaan mukhatab kosong dari hukum (tidak teringat olehnya hukum yang berlaku). Dia mengucapkan perkataan itu lupa mentakkidkannya.
2.      Thalibiyan
Kadang-kadang ada pula orang yang masih ragu-ragu dalam menetapkan hukum dan meniadakannya. Sebaiknya orang ini harus tahu kekuatan hukum itu yaitu dengan mentakkidkannya supaya hilang keragu-raguannya.
3.      Inkariyah
Kadang-kadang ada pula orang yang mengingkari hukum. Di sini diwajibkan mentakkidkan perkataan kepadanya sekadar yang diingkarinya.
Qasam muakkad (sumpah untuk menguatkan) terkenal dengan memungkinkan sesuatu itu pada diri seseorang dan menguatkannya. Al Qur’an diturunkan kepada umat manusia seluruhnya. Orang mengangkat sumpah gunanya ialah untuk membuktikan sesuatu. Karena dari sebagian orang itu ada yang masih ragu-ragu. Ada pula yang mengingkari, dan ada pula yang memusuhi. Bersumpah dengan menyebut nama Allah, ialah untuk menghilangkan keragu-raguan. Menghapuskan syubuhat, menegakkan hujjah, menguatkan berita, dan menegakkan hukum dalam bentuk yang lebih sempurna.[7]
Selanjutnya Imam as-Suyuti menjelaskan bahwa Allah SWT bersumpah dalam Al Qur’an terkadang untuk menguatkan terhadap pokok-pokok keimanan (37:1-4), untuk menguatkan kebenaran Al Qur’an (56:75-77), untuk menguatkan kebenaran Rasulullah (36:1-3), untuk menguatkan pembalasan, janji dan ancaman (51:1-6), dan untuk menguatkan keadaan manusia (92:1-4). Semua maksud-maksud qasam dalam Al Qur’an, telah dibahas dalam kitabnya at-Tibyan.[8]
I.       Manusia dan sumpah
Sumpah telah menjadi bagian dari warna perhubungan manusia dengan sesamanya. Biasanya seseorang menyatakan sumpahnya untuk meyakinkan pihak yang lain dalam perihal berita yang disampaikannya. Di dalam proses persidangan-pengadilan, urhensi sumpah menjadi lebih nyata.
Karena itu Allah melalui syari’at-Nya, mengatur perihal sumpah bagi manusia antara lain:
a.               Bersumpah tidak boleh dilakukan kecuali dengan nama Allah.
Al Qur’an, malaikat, Rasul, dan nama-nama lain kecuali Allah adalah makhluk. Karena itu, bersumpah dengan nama-nama tersebut adalah terlarang, dan hukumnya jelas-jelas “haram”.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar ra bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab yang sedang berada di dalam suatu qabilah, ‘Umar dijumpainya sedang bersumpah dengan nama bapaknya. Kemudian Rasulullah saw bersabda :
اَلاَاِنَّ اللهَ يَنْهاَكُمْ اَنْ تَحْلِفُوْابأٰبَآٓئِكُمْ فَمَنْ كََََاََنَ حَالِفً فََلْيَحْلِفْ بِِا للهِ اَوْلِيَصْمُتْ متفق عليه
“Ketahuilah, bahwasanya Allah telah melarang kamu bersumpah dengan (nama) bapak-bapak kamu. Karena itu, barang siapa mau bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau hendaklah ia diam”. (HR Muttafaqun “Alaih).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
مَنْ حَلََفَ بِغَيْرِاللهِ فَقَدْاََشْرَكَ
“Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik”.
b.              Bersumpah hanya dalam kebenaran.
Hendaklah menghindarkan diri dari bersumpah kecuali amat dibutuhkan dan dalam keadaan benar.
Rasulullah saw bersabda :
وَلاَ تَحْلِفُوْااِلاَّوَاَنْتُمْ صَادِ قُوْنَ رواه ابوداودوالنسا ئ عن ابى هريرة
“Dan janganlah kamu bersumpah kecuali kamu dalam keadaan benar”.(HR Abu Daud dan an-Nasa’I dari Abu Hurairah ra).
c.               Sumpah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Seseorang yang bersumpah dalam kedudukannya sebagai saksi di pengadilan atau sebagai pendakwa atau terdakwa, jika ia berdusta pada sumpahnya itu, ia berdosa kepada Allah. Adapaun sumpah yang dilontarkan dengan tidak sengaja, tidaklah dianggap sebagai sumpah.
Firman Allah :
Ÿw ãNä.äÏ{#xsムª!$# Èqøó¯=9$$Î/ þÎû öNä3ÏZ»yJ÷ƒr& `Å3»s9ur Nà2äÏ{#xsム$yJÎ/ ãN?¤)tã z`»yJ÷ƒF{$# (
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja,” (QS Al Ma’idah : 89)
Siti ‘A’isyah menjelaskan maksud firman Allah tersebut sebagai berikut :
هُوَقَوْلُ الرَّجُلِ لاَوَاللهِ وَبََلٰى وَاللهِ رواه البخارى وابوداود
“Yaitu perkataan seseorang, “Tidak, demi Allah” dan “Benar, demi Allah”. (HR Bukhari dan Abu Daud).
Maksud perkataan Ummul Mukminin tersebut ialah perkataan walla (demi Allah) yang lazim diucapkan oleh sebagian orang untuk menguatkan ucapannya itu, tidak dianggap sebagai sumpah, kecuali apabila yang bersangkutan mengutarakan sumpahnya itu setelah diminta bersumpah oleh orang lain, atau ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh sebagai sumpah.[9]





























BAB III
PENUTUP

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara etimologi aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam. Kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu : halaf dan yamin yang berarti sumpah.
Secara terminologi qasam didefinisikan sebagai : “Mengikatkan jiwa (hati) untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk melakukannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun keyakinan saja.”
Qasam atau sumpah ada yang zhahir dan ada pula yang dhammir. Pertama, qasam zhahir yaitu yang secara eksplisit disebut fi’il qasam dan disebutkan pula muqsambihnya. Ada pula yang dibuang fi’il qasam karena dicukupi dengan menjajarkan huruf الواو atau التاء   atau الباء. Dan kadang-kadang dimasukkan pula لاالنافيه  terhadap فعل القسم  pada beberapa tempat.


[1] Hamzah, Muchotob. 2003. Studi Al Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media. Hlm. 208 – 209 .

[2] Faridl, Drs. Miftah; Syihabudin, Drs.Agus. 1989. Al Qur’an Sumber Hukum Islam yang Pertama. Bandung : Pustaka. Hlm. 259 – 263.
[3] Hamzah, Muchotob. 2003. Studi Al Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media. Hlm. 208 – 209 .
[4] Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al Qur’an, h.182-183.
[5] Qutham, Mana’ul. 1995. Pembahasan Ilmu Al Qur’an 2. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. 128-130.
[6] Qutham, Mana’ul. 1995. Pembahasan Ilmu Al Qur’an 2. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. 130-131.
[7] Qutham, Mana’ul. 1995. Pembahasan Ilmu Al Qur’an 2. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. 119 – 120.
[8] Hamzah, Muchotob. 2003. Studi Al Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media. Hlm. 209.
[9] Hadits-hadits mengenai sumpah dapat dilihat pada kitab Bullughul Maram min Adillatil Ahkam dalam bab “Al-Aiman wan Nudzur”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar